Uncategorized24 Februari 20255 menit baca

Memahami Self-Plagiarism: Plagiarisme Diri yang Sering Terabaikan

Admin

Admin

Penulis

Blog Cover

Plagiarisme sering kali dikaitkan dengan tindakan menyalin karya orang lain tanpa izin. Namun, ada bentuk lain yang tidak kalah serius tetapi sering kali diabaikan, yaitu self-plagiarism atau plagiarisme diri. Self-plagiarism terjadi ketika seseorang menggunakan kembali karyanya sendiri tanpa memberikan atribusi atau deklarasi yang jelas. Meskipun berasal dari penulis yang sama, tindakan ini tetap dianggap tidak etis dalam dunia akademik dan publikasi ilmiah.

Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai self-plagiarism, bentuk-bentuknya, serta bagaimana menghindarinya.

Apa Itu Self-Plagiarism?

Self-plagiarism terjadi ketika seseorang menggunakan kembali karya atau hasil penelitian lamanya tanpa menyebutkan publikasi sebelumnya. Hal ini berbeda dengan plagiarisme biasa karena karya yang digunakan memang hasil kerja sendiri. Namun, dalam konteks akademik dan ilmiah, semua publikasi harus menyajikan kontribusi baru.

Beberapa bentuk umum self-plagiarism yang sering terjadi meliputi:

1. Menggunakan Kembali Data Penelitian Lama Tanpa Menyebutkan Publikasi Sebelumnya

Dalam dunia akademik, penelitian baru harus membawa nilai tambah atau temuan baru. Jika seorang peneliti menggunakan kembali data dari penelitian sebelumnya tanpa menyebutkan publikasi awal, maka hal tersebut dianggap sebagai self-plagiarism.

Contoh kasus:

  • Seorang mahasiswa mengumpulkan data untuk tesisnya, lalu menggunakan data yang sama untuk menulis artikel jurnal tanpa menyebutkan bahwa data tersebut berasal dari penelitian sebelumnya.

2. Mendaur Ulang Bagian Tinjauan Pustaka dari Skripsi ke dalam Paper Jurnal

Banyak mahasiswa atau peneliti yang menggunakan kembali bagian tinjauan pustaka dari skripsi atau tesis mereka dalam artikel jurnal. Jika bagian tersebut digunakan tanpa perubahan signifikan dan tanpa menyatakan bahwa bagian tersebut telah dipublikasikan sebelumnya, maka hal ini juga tergolong sebagai self-plagiarism.

Contoh kasus:

  • Seorang mahasiswa menulis makalah jurnal dengan menyalin bagian besar dari tinjauan pustaka yang sama dari skripsinya tanpa modifikasi atau deklarasi.

3. Mempublikasikan Hasil Penelitian yang Sama di Berbagai Jurnal Tanpa Deklarasi

Dalam dunia akademik, setiap penelitian yang dipublikasikan harus memiliki kontribusi unik. Jika seorang penulis mengirimkan makalah yang sama ke beberapa jurnal tanpa menyatakan bahwa makalah tersebut sudah pernah diterbitkan, maka tindakan tersebut dianggap sebagai self-plagiarism.

Contoh kasus:

  • Seorang peneliti menerbitkan artikel ilmiah di jurnal A, kemudian mengirimkan makalah yang sama dengan sedikit perubahan ke jurnal B tanpa menyatakan bahwa versi sebelumnya sudah dipublikasikan.

Dampak Self-Plagiarism

Meskipun tidak menyalin karya orang lain, self-plagiarism tetap memiliki dampak yang serius, antara lain:
  • Penurunan Kredibilitas Akademik: Menggunakan kembali karya lama tanpa deklarasi dapat merusak reputasi penulis.
  • Penolakan dari Jurnal atau Konferensi: Banyak jurnal ilmiah memiliki kebijakan ketat mengenai self-plagiarism dan dapat menolak makalah yang dianggap melanggar.
  • Masalah Hak Cipta: Jika hak publikasi suatu artikel telah diberikan ke satu jurnal, maka menerbitkannya kembali tanpa izin dapat melanggar hak cipta.

Cara Menghindari Self-Plagiarism

Agar terhindar dari self-plagiarism, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
  • Selalu Deklarasikan Penggunaan Karya Sebelumnya: Jika menggunakan bagian dari penelitian atau publikasi lama, pastikan untuk mencantumkan referensi ke karya tersebut.
  • Gunakan Teknik Parafrase dan Sintesis: Jika ingin menggunakan bagian dari penelitian sebelumnya, pastikan untuk menulis ulang dengan cara yang lebih segar dan relevan dengan konteks baru.
  • Gunakan Kutipan yang Jelas: Sama seperti plagiarisme terhadap karya orang lain, self-plagiarism juga bisa dicegah dengan menggunakan kutipan yang jelas.
  • Periksa Pedoman Jurnal atau Konferensi: Setiap jurnal memiliki kebijakan sendiri mengenai self-plagiarism. Pastikan untuk membaca dan mengikuti pedoman yang ada.
Self-plagiarism adalah bentuk plagiarisme yang sering tidak disadari tetapi tetap memiliki konsekuensi yang signifikan. Dalam dunia akademik, transparansi dan integritas dalam publikasi sangatlah penting. Dengan memahami self-plagiarism dan cara menghindarinya, kita dapat memastikan bahwa setiap karya yang dipublikasikan benar-benar membawa kontribusi baru dan orisinal.

Dengan menjaga etika dalam menulis dan mempublikasikan karya ilmiah, kita tidak hanya melindungi reputasi akademik kita sendiri, tetapi juga membantu menjaga kualitas penelitian yang dipublikasikan dalam dunia akademik secara keseluruhan.

 

Admin

Admin

Penulis

Penulis di Kelas Inovatif.

K

Bergabunglah dengan newsletter kami

Dapatkan pembaruan terbaru langsung ke kotak masuk Anda.